Menururt pendapat Ki Hajar Dewantoro
dalam Kongres Taman Siswa ( 1930 ) mengungkapkan :“Pendidikan. Umumnja
berarti daja-upaja untuk memadjukan bertumbuhnja budi pekerti (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak: … .
Dalam Undang-Undang RI Nomor 20
tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa :”Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengambangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadaian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa,
dan Negara .”
Selanjutnya, Sihombing (2002) dalam
Ety Rochaety, dkk (2005 :7 ) bahwa pendidikan mengandung pokok-pokok penting
sebagai berikut :
- Pendidikan adalah proses pembelajaran
- Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia
- Pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku positif.
- Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar
- Pendidikan berkaitan dengancara mendidik
- Pendidikan memiliki dampak lingkungan
- Pendidikan tidak berfokus pada pendidikan formal
Berdasarkan hal tersebut di atas,
bahwa pendidikan merupakan sutau system yang memiliki kegiatan cukup kompleks,
meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu dengan yang lain, dengan tujuan
untuk membangun masa depan bangsa. Jika menginginkan pendidikan yang
berkualitas , maka berbagai komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan
diperlukan pengkajian usaha pendidikan sebagai suatu system yang dapat dilihat
secara mikro dan makro .
Teori manajemen mutu terpadu atau
yang lebih dikenal dengan Total Quality Management.(TQM) akhir-akhir
ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap
sangat tepat dalam dunia pendidikan saat ini. Konsep total quality
management pertama kali dikemukakan oleh Nancy Warren, seorang behavioral
scientist di United States Navy (Walton dalam Bounds, et. al, 1994).
Istilah ini mengandung makna every process, every job, dan every
person (Lewis & Smith, 1994). Pengertian TQM dapat dibedakan menjadi
dua aspek (Goetsch & davis, 1994).
Aspek pertama adalah TQM merupakan sebuah pendekatan dalam menjalankan
usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus
menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi. Aspek
kedua menyangkut cara mencapainya dan berkaitan dengan sepuluh
karakteristik TQM yang terdiri atas : (a) focus pada pelanggan (internal
& eksternal), (b) berorientasi pada kualitas, (c) menggunakan pendekatan
ilmiah, (d) memiliki komitmen jangka panjang, (e) kerja sama tim, (f)
menyempurnakan kualitas secara berkesinambungan, (g) pendidikan dan pelatihan,
(h) menerapkan kebebasan yang terkendali, (i) memiliki kesatuan tujuan, (j)
melibatkan dan memberdayakan karyawan.(Ety Rochaety,dkk,2005 :97)
Di sisi lain, Zamroni memandang
bahwa peningkatan mutu dengan model TQM , dimana sekolah menekankan pada peran
kultur sekolah dalam kerangka model The Total Quality Management (TQM).
Teori ini menjelaskan bahwa mutu sekolah mencakup tiga kemampuan, yaitu :
kemampuan akademik, sosial, dan moral. (Zamroni , 2007 :6 ) Menurut teori
ini, mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses
belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai,
kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang
telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan
berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi
perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu : guru, kepala sekolah, staf
administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi
peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah,
sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan
mutu sekolah.
Selanjutnya untuk meningkatkan mutu
sekolah seperti yang disarankan oleh Sudarwan Danim ( 2007 : 56 ), yaitu dengan
melibatkan lima faktor yang dominan (1).Kepemimpinan Kepala sekolah; kepala
sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau
bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam
bekerja, memberikanlayananyang optimal, dan disiplin kerja yang kuat;
(2).Siswa; pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “
sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat
menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa .; (3). Guru; pelibatan guru
secara maksimal , dengan meningkatkan kopmetensi dan profesi kerja guru dalam
kegiatan seminar, MGMP, lokakarya serta pelatihan sehingga hasil dari kegiatan
tersebut diterapkan disekolah. (4). Kurikulum; sdanya kurikulum yang ajeg /
tetap tetapi dinamis , dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang
diharapkan sehingga goals (tujuan ) dapat dicapai secara maksimal; (5).
Jaringan Kerjasama; jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan
sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat ) tetapi dengan
organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah
dapat terserap didalam dunia kerja
Berdasarkan pendapat diatas,
perubahan paradigma harus dilakukan secara bersama-sama antara pimpinan dan
karyawan sehingga mereka mempunyai langkah dan strategi yang sama yaitu
menciptakan mutu dilingkungan kerja khususnya lingkungan kerja pendidikan.
Pimpinan dan karyawan harus menjadi satu tim yang utuh (teamwork ) yangn
saling membutuhkan dan saling mengisi kekurangan yang ada sehingga target (goals
) akan tercipta dengan baik
Adapun Unsur yang terlibat dalam
peningkatan mutu pendidikan dapat lihat dari sudut pandang makro dan mikro
pendidikan, seperti yang dijabarkan di bawah ini :
1. Pendekatan Mikro Pendidikan :Yaitu suatu pendekatan terhadap pendidikan dengan indicator
kajiannya dilihat dari hubungan antara elemen peserta didik, pendidik, dan
interaksi keduanya dalam usaha pendidikan. Secara lengkap elemen mikro meliputi
(i).Kualitas manajemen; (ii).Pemberdayaan satuan pendidikan; (iii).
Profesionalisme dan ketenagaan; (iv).Relevansi dan kebutuhan.
Berdasarkan tinjauan mikro elemen
guru dan siswa yang merupakan bagian dari pemberdayaan satuan pendidikan
merupakan elemen sentral. Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai
tujuan, dan untuk mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala, dengan
memperhatikan sumber dan kendala ditetapkan bahan pengajaran dan diusahakan
berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini menampilkan hasil
belajar. hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian dapat merupakan
umpan balik sebagai bahan masukan dan pijakan.
Dari gambar diatas, bahwa
pengetahuan teori yang didapatkan dari seorang guru melalui kualitas manajemen
dengan harapan tujuan pendidikan akan tercapai, tujuan akan tercapai jika
dibekali dengan bahan sehingga proses pendidikan akan terlaksana dengan baik
sehingga akan menghasilkan hasil belajar yang dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor yaitu melalui penilaian dengan dasar criteria penilaian
, hasil dari penilian akan dijadikan umpan balik.
2. Pendekatan Makro Pendidikan ;Yaitu kajian pendidikan dengan elemen yang lebih luas dengan
elemen sebagai berikut: (i).Standarisasi pengembangan kurikulum;(ii).Pemerataan
dan persamaan, serta keadilan; (iii).Standar mutu; dan (iv). Kemampuan bersaing.
Tinjauan makro pendidikan ( P.H
Coombs, 1968 ) dalam Etty Rochaety, dkk (2005 : 8 ) bahwa pendekatan makro
pendidikan melalui jalur – jalur , yaitu INPUT SUMBER – PROSES PENDIDIKAN
– HASIL PENDIDIKAN
Input sumber pendidikan akan
mempengaruhi dalam kegiatan proses pendidikan , dimana proses pendidikan
didasari oleh berbagai unsur sehingga semakin siap suatu lembaga dan semakin
lengkap komponen pendidikan yang dimiliki maka akan menciptakan hasil
pendidikan yang berkualitas.
Secara umum untuk meingkatkan mutu
pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan,
dimana unsure makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality
dan Equity ) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai
berikut (1).Pemerintah daan satuan pendidikan menanggung biaya minimum
pendidikan yang diperlukan baik negeri maupun swasta secara bertahap
terhadap 14 indikator pencapaian di dalam SPM yang menjadi tanggung jawab
Pemda melaui dinas pendidikan, dan 13 indikaor pencapaian di dalam SPM
(permendiknas no.15/2010) melalui telah telaah dan survey yang akurat terhadap
sekolah yang ada. (2).Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia,
antara lain melalui double shift ( contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas
Jauh ); (3).Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi
dalam rangka peningkatan mutu embelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung
yang tersedia; (4). Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang
Kelas Baru (RKB ) dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap –tiap daerah
sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.; (5).Memberikan perhatian
khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil,
masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh;(6).Meningkatkan partisipasi anggota
masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib
belajar pendidikan dasar 9 tahun bahkan sampai 12 tahun .
Sedangkan peningkatan mutu sekolah
secara umum dapat diambil satu strategi dengan membangun Akuntabilitas
pendidikan dengan pola kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen (
Sudarwan Danim, 2007 : 225 ) yang menyarankan (1).Untuk memperkuat
tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan;
(2).Menggabungkan aspek –aspek positif individual dengan berbagai manfaat dari
konsumen ;(3).Berfokus pada detaiol dalam mengimplementasikan gambaran besar
tentang perusahaan; (4).Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu
mengidentifikasikan akar menyebab masalah;(5).Membangun hubungan antarpribadi
yang kuat; (6).Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat
yang konstruktif ;(7).Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa
depan; (8).Bangga dan menghargai prestasi kerja; (9).Bersedia menerima tanggung
jawab dan mengikuti pelatihan
(COPAS)